MENGAPA KECERDASAN EMOSIONAL (EQ) PENTING ?

(Dr. Ir. Sunar Abdul, MS)

Pengantar

Dalam mengeksplorasi unsur-unsur penghasil kinerja, para pakar efisiensi pengikut aliran Taylor pada awal abad XX berusaha menganalisis gerakan secara mekanis yang paling efisien yang dapat dilakukan secara fisik oleh tubuh seorang pekerja. Tak lama setelah Taylorisme, muncullah standar baru untuk melakukan evaluasi. Kinerja seseorang diukur dari kemampuan otaknya : tes IQ. Hasil riset belakangan menunjukkan bahwa orang ber IQ tinggi tak jarang pula berkinerja rendah dalam pekerjaan, sementara mereka yang ber-IQ sedang-sedang saja, justru sering menunjukan prestasi yang tinggi.
Secara empiric dapat dikatakan bahwa, sementara IQ anak-anak makin tinggi akibat nutrisi dan kesempatan menikmati pendidikan yang lebih baik, mereka sering mengalami masalah emosional. Pada umumnya, dengan meningkatnya irama kehidupan, anak-anak tumbuh dalam ketidakpastian dan depresi, lebih mudah marah, sulit diatur, lebih gugup, cenderung cemas, lebih impulsive dan agresif. Pada tahun 1960-an, para pakar pengikut pola piker Freud menemukan bahwa selain IQ, kepribadian (seperti ekstrover atau introvert, perasa atau pemikir) merupakan unsur penting untuk keberhasilan dan dijadikan bagian dari pengukuran baku untuk potensi kerja. Masalah yang timbul kemudian adalah bahwa tes kepribadian tersebut dirancang untuk tujuan yang berbeda, misalnya untuk mendiagnosis gangguan psikologis, sehingga tidak cocok untuk memprediksi kinerja seseorang dalam suatu pekerjaan.

Yang diinginkan para pemberi kerja

Sebuah survai terhadap para pemberi kerja di Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa :

• lebih dari 50% pekerja mereka kurang memiliki motivasi untuk terus belajar dan meningkatkan diri melalui pekerjaan mereka
• sekitar 40% tidak mampu bekerja sama sengan rekan sekerja mereka, dan
• hanya 19% dari para pelamar pekerjaan tingkat pelaksana memiliki disiplin diri yang cukup untuk bekerja.

Temuan lain adalah, bahwa sebagian besar dari para pekerja muda tidak tahan menerima kritik. Mereka menjadi depensive atau marah jika ada orang yang memberi mereka umpan balik tentang cara kerja mereka. Umpan balik tentang kinerja tersebut mereka tanggapi sebagai serangan yang bersifat pribadi.
Sebuah Survai nasional di AS terhadap apa yang diinginkan para pemberi kerja dari para pekerja baru tidak terlalu mementingkan keterampilan teknik khusus jika dibanding dengan kemampuan dasar untuk mempelajari keterampilan yang dituntut untuk mengerjakan suatu pekerjaan. Selain itu, yang diharapkan pemberi kerja dari seseorang pekerja baru adalah berbagai kemampuan personal dan antar personal, yang secara singkat disebut/dinamakan kecerdasan emosional dan mencakup antara lain :
• mampu mendengarkan dan berkomunikasi lisan ;
• memiliki adaptabilitas dan tanggapan kreatif terhadap halangan / hambatan dan kegagalan ;
• percaya diri, mampu mengelola diri sendiri, memiliki motivasi untuk bekerja meraih sasaran, berkeinginan mengembangkan karir, dan bangga terhadap prestasi yang dicapai ;
• selalu berusaha meningkatkan efektivitas lingkungan kerja, selalu berusaha memberi konstribusi.

Kecerdasan Emosional

Riset dalam kurun waktu dua dasa warsa terakhir membuktikan bahwa keterampilan kecerdasan emosional bekerja secara sinergistik dengan keterampilan kognitif. Orang-orang berprestasi tinggi memiliki keduanya. Makin kompleks dan menantang suatu pekerjaan, makin penting kecerdasan emosional. Riset tersebut juga menunjukkan, agar seseorang berprestasi tinggi dalam pekerjaan, apapun bidang dan jabatannya, kecakapan emosional minimal dua kali lebih penting dari pada kemampuan kognitif murni.
Jika IQ berkembang hanya sedikit setelah usai remaja, kecerdasan emosional berkembang terus sepanjang hidup sambil belajar dari pengalaman. Kecakapan kecerdasan emosional dapat terus tumbuh, sejalan dengan makin trampilnya seseorang dalam menangani emosi dan impulsnya sendiri, dalam memotivasi diri, dalam mengasah empati dan kecakapan sosal : kedewasaan. Kecakapan-kecakapan itu tidak berdiri sendiri-sendiri. Unsur untuk mencapai kinerja puncak mensyaratkan seseorang menguasai perpaduan kecakapan, hanya setelah kecakapan-kecakapan itu mencapai kadar tertentu, barulah semua itu menjadikan seseorang berprestasi menonjol.
Adapun kecakapan emosional yang paling sering mengantar orang ketingkat keberhasilan antara lain :
• inisiatif, semangat juang, kemampuan menyesuaikan diri
• pengaruh, kemampuan bekerja dalam tim, kecerdasan politis
• empati, percaya diri, kemampuan mengembangkan orang lain

Implikasi pada Proses Pembelajaran

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, kiranya perlu dirancang proses pembelajaran untuk mengisi kekurangan yang selama ini dirasakan, yaitu membekali mahasiswa dengan kemampuan kerja khusus :
a. yang didasarkan pada penguasaan diri, seperti percaya diri, inisiatif, dapat dipercaya, dorongan untuk berhasil di samping pengetahuan dan keterampilan, kejujuran sesuai dengan bidang / program keahlian yang dipilihnya dan
b. keterampilan sosial pokok, seperti empati, kemampuan mengatasi perbedaan pendapat, kemampuan tim, dan kepemimpinan, khususnya memimpin diri mereka sendiri.

Masalah yang diungkap tersebut terdahulu akan menjadi lebih relevan, jika kita bersama harus menjawab pertanyaan paling penting bagi Negara-negara Indonesia dalam rangka menghadapi era kesejagatan :bagaimana memiliki daya saing adalah mereka yang :
• sadar kualitas • sadar informasi
• sadar waktu • sadar komunikasi
• sadar biaya • sadar layanan

Sedangkan untuk memiliki daya saing, ia harus efiesien. Artinya, tidak hanya berkutat mempermasalahkan sesuatu, tetapi juga memberikan solusi, melalui pemberdayaan / sinergi sumber-sumber yang ada (ada belum berarti dimiliki), berdasarkan pertimbangan yang optimal. Efisien tersebut harus diartikan pula dalam segala bidang, termasuk dalam mempersiapkan para calon lulusan, agar selalu dapat tampil berprestasi, di manapun mereka bekerja, baik di sektor ekonomi (secara mandiri atau menjadi pegawai) maupun disektor pemerintahan dan atau di sector nirlaba. Hal ini perlu diungkap secara khusus, mengingat kita sering melupakan bahwa lapangan persaingan global tidak hanya meliputi sektor ekonomi, tetapi juga sektor pemerintahan dan sektor nirlaba.

(Dr. Ir.Sunar Abdul ,MS)

Ketua Program Studi Magister Manajemen (MM)